Museum Sejarah Jakarta

keramik 355x400 Museum Sejarah JakartaPernah jalan-jalan ke Museum Sejarah Jakarta? Menarikah Museum Itu?

Sudah jadi rahasia umum bahwa orang Indonesia tak begitu suka jalan-jalan ke museum. Setidaknya bila minat kunjungan ke Mall dijadikan sebagai titik acuan, piknik ke museum ibarat pergi ke tempat yang dingin, kaku dan berdebu. Apa menarikanya memandangi benda-benda kuno hasil karya manusia masa lalu yang berdiri beku di pojok-pojok ruang. Anak kota, seperti anak saya lebih tahu letak Grand Indonesia ketimbang Museum Sejarah Jakarta.

Frankly speaking jangankan anak-anak, saya juga pernah mencampur adukan antara Museum Fatahillah (nama lain dari museum sejarah jakarta) dengan Museum Bahari. Karena sedikitnya minat, daya pikir saya gagal mengenali dua tempat tersebut. Padahal lokasi  penyimpanan  hasil budi manusia yang survive dalam perjalanan sejarah itu beda.  Museum Sejarah ada di jalan Taman Fatahillah sementara Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Hei saya Berwisata ke Museum Sejarah Jakarta icon smile Museum Sejarah Jakarta

Untuk menebus kesalahan suatu hari saya berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta.  Bekas Gedung Balai Kota (staadhuis) Batavia menyimpan aneka peninggalan purbakala. Kita akan berjalan melintasi waktu  antara masa kini dan prasejarah.

Dalam Museum Sejarah Jakarta  saya melihat  perhiasan manik-manik yang pernah digunakan perempuan gua. Perhiasan emas ke erah lebih muda desainnya sungguh menarik. Aneka uang logam jaman VOC, perabot rumah tangga antik yang dibuat dan digunakan pada abad 17 dan 19. Oh keren! Kalau mau melihat lukisan Raden Saleh yang sekarang nilainya sudah tak bisa di takar secara rupiah, datanglah ke museum sejarah Jakarta. Begitu pula bila hendak kenal dengan Gubernur Hindia Belanda yang rata-rata berwajah ganteng, lukisan mereka tergantung dengan rapi di dinding.

cats 388x400 Museum Sejarah JakartaIteng Saba Kota

Keluar dari museum merasa aneh pada diri sendiri. Seperti baru keluar dari lorong masa lalu kemudian terpaksa menghadapi dunia moderen. Museum menyimpan begitu banyak cerita tapi kok terlewatkan oleh saya ya?  Dulu menyukai cerita-cerita petualangan, tapi mengapa tak terbersit mencari lorong-lorong rahasia bawah tanah di sana?

Jadi ingat waktu SD atau SMP (lupa) pernah diajak sekolah jalan-jalan ke museum Gajah dan Tekstil. Kesan yang tersimpan dalam memori sekarang, tempat itu begitu formal.   Kami  diharuskan mencatat keterangan yang diberikan seorang Bapak berbaju Safari, kepala botak, berkaca mata dengan wajah dan suara monoton.  Kesannya tak ada yang fun ketika itu kecuali beban tugas yang nanti harus diserahkan pada guru.

IMG 0067 tile Museum Sejarah Jakarta

Jadikan Museum  tempat menarik

Mungkinkah pendekatan seperti ini yang membuat museum tak menarik sebagai objek wisata? Kalau saja dibuat pendekatan lain bahwa museum adalah tempat menarik, bukan untuk belajar, hanya untuk mengenal, bukan mencatat, saya yakin suatu saat museum bisa jadi pilihan wisata orang Indonesia ketimbang mal. Apalagi jika guide mengerti apa yang dimaui anak-anak, berbicara dalam bahasa mereka, tanpa disuruhpun mereka pasti merekam pengalaman itu di memori dalam konteks menarik.

Bagaimana dengan dirimu teman? Punya pengalaman berkunjung ke museum?

 Salam,

– Evi





24 thoughts on “Museum Sejarah Jakarta

  1. Pingback: Menatap Sejarah Jakarta Lewat Menara Syah Bandar | Jurnal Transformasi

  2. Pingback: (EnjoyJakarta) Sejarah Jakarta Lewat Menara Syah Bandar | Jurnal Transformasi

  3. Ibu juri datang :)

    Banyak hal-hal menarik yang bisa dilihat di museum. Sayangnya banyak museum yang kurang terawat, sehingga tambah suram kelihatannya. Khawatirnya banyak yang takut, jadinya enggan ke museum…

    • Emang begitu Bu Juri, museum tak hanya sebagai rumah benda-benda kuno, gedung dan tempatnya juga dibiarkan suram mengikuti yg disimpannya. Terima kasih Bu Juri sdh mampir. Semoga berkenan :)

  4. Hal bagus yang dilakukan Pemkot Jogja adalah mendirikan sebuah tempat bernama “Taman Pintar”, terletak dekat daerah nol kilometer, di tengah kota. Sesuai namanya, maka taman ini benar-benar membuat kita pintar. Sebab, isinya tidak hanya taman bermain, tapi juga penuh edukasi. Ada gedung berisikan aneka penemuan ilmiah dan ada gedung yang merupakan museum.

    Jadi, dengan kondisi seperti itu, acara bermain bersama anak tidak sekedar main-main, tapi juga mendatangkan manfaat yakni pengetahun modern dan pemahaman sejarah.. :)

    • @ Vizon: Pemda Jogja sudah mulai pintar tuh Uda..Gak sia-sia jika kota mereka disebut kota pelajar yah..Aku sependapat bahwa pendidikan itu tak selalu harus serius, mencatat dengan kening berkerut atau menghapal. Pendidikan yg kemas dalam suasana fun jauh lebih merasuk ketimbang yg serius-serius :)

  5. aku juga suka mengunjungi museum,Vi
    tapi ya gitu, gak bisa bikin tulisan yg seperti Evi bikin gini . :(
    mungkin museum di negeri kita masih belum bisa menarik minat utk orang berwisata, krn kurang promosi atau pengelolaan yg kurang baik, kebanyakan hanya diperuntukkan bagi anak2 sekolah yg berwisata dr sekolah sekaligus membuat tugas
    salam

    • @Bunda Lily: Hehehe Bunda paling bokis kalau urusan merendah..Dan aku gak bisa bikin puisi..
      Iya Bun, banyak faktor penyebab mengapa museum belum jadi alternatif wisata menarik di negara kita. Keluahannya selalu kekurangan dana utk melakukan sesuatu. Tapi menurutku masalah kita bukan di dana, tapi dari cara berpikir. Kita kurang kreatif Bun :)

  6. Aku pernah ke museum ini juga Mbak. Tapi waktu itu belum ngeblog – jadi motretnya juga asal-asalan dan ceritanya juga udah banyak lupanya he he.
    Mbak Evi kayanya punya banyak cerita yang bisa diikutkan di Giveaway pertama-nya Mbak Monda deh (i.e yang gedung Sate, terus yang bekas penjara itu dsb). Pasti bisa menang.Semoga sukses dg kontesnya ya Mbak Evi.
    Aku sebenarnya juga pengen ikutan. Tapi sayangnya aku miskin bahan-bahan pendukung.

    • Hahaha..Iya Mbak Dani, nge-blog membuat kita lebih sadar lingkungan. Saya tuh sekarang kalau kemana-mana suka buka mata lebar-lebar, pasti ada sesuatu yg menarik yg bisa diceritakan di blog nanti. Yang dalam museum ini diambil dengan mencuri2 Mbak, kan gak boleh bawa camera ke dalam. Hasilnya ya gitu deh..hasilnya kurang memuaskan..Terima kasih atas supportnya…Semoga mbak dani bisa juga ikutan di tema lain nanti :)

  7. Bukan karena nggak mau atau nggak bisa mengapresiasi peninggalan leluhur, saya ini termasuk yg belum bisa menikmati wisata museum. Tiap lihat benda2 kuno, entah knapa rasanya malah takut. Apalagi kalau yg fosil2 gitu.
    Tapi tidak berarti nggak pernah pergi ke museum atau tempat bersejarah. Cuman ya itu tadi, menggebunya kurang.
    Ketika sebagian orang berburu benda kuno, saya malah ada rasa “aneh” menuju “takut”
    Itu pula yg membuat saya nggak nyaman kalo kerumah mertua, karena selain bangunannya kuno, perabotannya juga 90% kuno semua….
    Semoga sukses di kontesnya Mbak Monda ya Mbak…

    • @Pak Mars: Iya Pak, kalau dasarnya takut dan merasa tak nyaman berada diantara benda-benda purbakala, itu bukan karena tak mengapresiasi sejarah. Mungkin itu karena imajinasinya Pak Mars yang ketinggian, atau sensitif terhadap dimensi lain. Gak apa-apalah Pak Mars, masih banyak kok yg bisa diapresiasi dari peninggalan generasi dahulu kala selain museum. Trims atas doanya Pak :)

  8. Kesalahan kita bersama adalah kita belum bisa (gagal) membuat tempat-tempat bersejarah menjadi tempat yang menyenangkan dan nyaman untuk dikunjungi terutama anak-anak sekolah. satu lagi yang penting menurut saya, jika ada kunjungan dari sekolah, anak-anak tsb hanya sibuk mencatat (tugas yang diberikan), padahal akan lebih baik mereka diberi kebebasan untuk menikmati, membaca dan melihat, silahkan mereka mencatat kalau menurutnya hal itu penting. Saya pernah melihat anak sekolah di australia mengunjungi museum :
    http://dherdian.wordpress.com/2011/12/21/national-museum-of-australia/

    • @Pak Ded: Sebentar lagi, pendidikan kita akan menyusul Australia Pak..Sekarang di Indonesia sudah mulai banyak sekolah yg mendukung creativitas anak. Mudah2an anak-anak dari sekolah ini, sebagai ujung tombak pengembangan kreativitas bangsa Indonesia. Sehingga suatu saat museum2 yg sekarang menyedihkan yang banyak terdapat di berbagai daerah, masuk ke masa kejayaan..
      Trims atas linknya..Nanti saya berkunjung :)

  9. dulu waktu sekolah(emg pernah sekolah) ,pelajaran yg paling saya sukai ya ,sejarah ?
    Hehe saya malah ga tau letak Grand Indonesia ,apalagi museum jakarta ?(keliatan anak kampung)

    Sukses buat GA nya?

  10. Orang-orang Hongkong dan Hollywood mampu membuat film menarik dengan menggabungkan unsur fiksi dan sejarah, sehingga penonton (termasuk saya) tertarik untuk memperdalam informasi tentang sejarah yang melatarbelakangi film tersebut. Itu satu cara untuk membuat sejarah lebih menarik.

    • @Mas Nando: Ingat pelem Night in Museum baru-baru ini. Tiap malam para penghuninya bangun dan gentayangan mencari dunia mereka. Itulah kehebatan imajinasi yah Mas Nando. Tapi pendidikan mereka memang mendukung perkembangan otak kanan, apa boleh buat kita kalah set dalam hal ini :(

  11. Terima kasih ya Uni udah ikut serta meramaikan acaraku.
    Link bannernya masih belum ke tulisanku ni.
    Setelah itu akan Ki ayat sebagai peserta ya, mohon maaf.

    Hanya ada koreksi sedikit, Museum Nasional itu nama resmi untuk museum gajah.

  12. “Jadikan Museum tempat menarik” nah..saya setuju dengan ini…tempat bersejarah seringkali kurang diminati karena tampilannya kurang menarik..apalagi buat anak2…
    Semoga sukses di GAnya mbak Monda ya mbak.. :)

    • @Mb Mechta: Tak bisa lain Mb Mechta. Lucu saja jika untuk mengapresiasi isi museum kudu tunggu nenek-nenek dulu hehehe..Anak mudalah yg paling penting melakukannya. Karena mereka yg bisa berbuat lebih banyak untuk bangsa dengan acuan sejarah bangsa mereka sendiri. Tks atas doanya Mbak :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge